Selalulah Merujuk Kepada Allah

Posted on

“Ya Allah beri aku karunia berupa akhir yang baik (husnul khotimah)”. Inilah bagian dari do’a yang kerap kita panjatkan kepa Allah SWT.

Saudaraku, akhir yang baik, atau husnul khotimah adalah tanda bahwa kita dimuliakan dan mendapat ampunan Allah SWT. Kebalikannya, akhir yang buruk, atau su’ul khotimah, adalah tanda bahwa kita hina dalam pandangan Allah SWT dan jauh dari ampunan-Nya, naudzubillah min dzalika. Sebab itu, meminta agar diberi karunia husnul khotimah, sangat penting. Dan meyakini betapa pentingnya husnul khotimah, adalah keharusan.

Do’a itu berisi permintaan agar pada detik-detik terakhir hidup kita adalah kebaikan. Sebab itu tidak mungkin satu ranting akan tumbuh dengan baik dan berbuah segar, bila batang pohonnya rusak. Sama tidak mungkinnya, akar yang rusak akan menghasilkan tanaman yang baik.

Tapi ada sebuah hadist Rosulullah SAW yang sepintas kandungannya berbeda dengan kaidah ini. Rosulullah SAW mengatakan, “Demi Zat yang jiwaku ada dalam Tangan-Nya, ada salah seorang dari kalian yang melakukan amalan ahli jannah sampai ketika tidak ada batas antara dirinya dan surga itu kecuali satu hasta, tapi telah tertulis ketetapan baginya terlebih dahulu, sehingga ia melakukan amalan ahli neraka hingga kemudian ia menjadi ahli neraka. Dan ada di antara kalian yang melakukan amalan ahli neraka hingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali satu hasta, tapi telah tertulis ketetapan baginya terlebih dahulu, sehingga ia melakukan amalan ahli surge, kemudian ia menjadi ahli surga”.

Jika hadist ini dipahami keliru, bisa saja dikatakan bahwa Allah SWT menghilangkan buah ketaatan dan kedekatan yang dilakukan seorang hamba kepada-Nyaselama kehidupan seorang hamba yang panjang, sehingga jatuh begitu saja dari ketaatan yang diinginkan hamba tersebut. Padahal, Allah SWt berfirman, “Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan orang yang melakukan amal kebaikan”. (QS. Al-Kahfi : 30).

Saudaraku, Para ulama pun emudian meluruskan masalah ini dengan mencari riwayat lain yang mirip dengan hadist tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya, sabda Rosulullah SAW dari Sahal bin Sa’ad As Saa’idi Radhiallahu an’hu, “Sesungguhnya seseorang melakukan amalan ahli surga yang tampak dihadapan manusia, padahal dia adalah ahli neraka. Dan sesungguhnya seseorang melakukan amalan ahli neraka yang tampak dihadapan manusia, padahal ia adalah ahli surga”.

Jadi perbedaan mendasarnya ada pada perkataan Rosulullah SAW, “yang tampak dihadapan manusia”. Perbedaan itu langsung memberi hikmah kepada kita dalam memahami konteks masalah ini. Masalahnya ada pada seseorang yang melakukan amal kebaikan dan keburukan tetapi dalam lingkup “yang tampak dihadapan manusia”. Itulah yang dimaksud proses yang menghubungkan sebab dan akibat kondisi seseorang, itulah yang dimaknai dengan awal dan hasil, atau batang dan ranting yang kita bicarakan tadi.

Ada orang yang tampak selau sholat di masjid, selalu berdzikir, dan beramal kebaikan, tapi sebenarnya Ia melakukan itu semua karena riya ingin dinilai manusia, agar manusia suka padanya dan memberi manfaat duniawi kepadanya. Yang tampak kebaikan, tapi yang tidak Nampak adalah kebalikannya. Atau, ada orang yang sepertinya ia bergelut diantara lingkungan yang rusak, dan melakukan banyak kemaksiatan, Sementara dirinya selalu menyesali perbuatannya sendiri, dan dihadapan Allah SWt meminta agar diberi kekuatan untuk berlepas dari kemaksiatan dan dosa yang dilakukannya. Hingga suatu ketika do’anya dikabulkan dan orang itu terdorong melakukan kebaikan-kebaikan hingga kesalahannya terampuni oleh Allah SWT. Tidak ada yang mengetahui soal ampunan Allah kepada orang tersebut, dan belum tentu orang lain mengetahui ada kebaikan yang dilakukan oleh orang tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *