Meniru Dua Umar

Posted on

Indonesia, negeri kaya raya, dengan luas wilayah dan jumlah penduduk nomor empat sedunia, setelah China, India dan Amerika. Kondisinya, tidak luput dari suasana yang menyedihkan ini. Sekiranya para pemimpin negeri ini, memiliki hasrat yang kuat untuk mengatasi berbagai akibat bencana, seperti; dekadensi moral, korupsi, penyakit busung lapar, kemelaratan hidup, serta segala krisis yang diderita rakyat Indonesia. Bagusnya, meniru system kepemimpinan dua Umar, yaitu; Khalifah Umar bin Khattab RA dan satu lagi, Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Islam kelima.

Kedua orang figure teladan ini, adalah pemimpin umat yang bertaqwa, adil dan jujur, seakan tanpa cela. Gaya hidupnya zuhud, sehingga kepemimpinan beliau berdua – dengan izin Allah SWT – mampu membebaskan rakyatnya dari kegelapan syirik dan menyinarinya dengan tauhid. Di bawah kepemimpinan beliau, kehidupan rakyat penuh dengan berkah dan cucuran rahmat Allah SWT dirasakan begitu sangat nikmat.

Umar bin Khattab menduduki kursi khilafah selama 12 tahun, sedangkan Umar bin Abdul Aziz, tidak lebih dari tiga tahun saja. Namun dampak positif dari kepemimpinan mereka yang terpuji itu luar biasa. Terwujudnya keadilan, ketentraman hidup, keselamatan dan kemakmuran rakyat dipenuhi berkah dari langit. Rahasia utama kepemimpinan mereka berdua, sekalipun memimpin pada periode yang berbeda, adalah karena memimpin Negara dengan menggunakan system ilahiyah, berpegang teguh pada dienul islam, dan menjalankan roda pemerintahan semata-mata dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

Ukuran kepemimpinan yang berhasil dan sukses, adalah yang mampu menyelamatkan rakyatnya dari kegelapan syirik, kekeruhan hati dan kebejatan akhlaq. Kemudian berganti dengan sinar tauhid, cahaya iman, kejernihan hati dan kemuliaan akhlaq, karena bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagai Khalifah, mereka memimpin rakyatnya ke jalan Allah SWT, berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah, dengan kata lain formalisasi syariat islam di lembaga Negara.

Kepemimpinan yang terpuji semacam ini – dengan izin Allah – pasti membuahkan kemakmuran yang penuh berkah, dan terhindar dari kemakmuran ekonomi yang dipenuhi fitnahse bagaimana yang menimpa Negara-negara kafir, baik di barat maupun di timur, dahulu maupun sekarang. Kehidupan ekonomi makmur tapi kebahagian hidup tidak juga didapat. Berapa banyak mereka bunuh diri, bukan lantaran melarat tapi justru karena kemewahan hidup yang menjerumuskan pada kehidupan bejat dan munkaraat.

Kepemimpinan yang mulia ini hanya akan terjadi apabila memakai system dienul islam, yakni Negara yang dipimpinnya harus di atas dasar tauhid, dan sumber hokum positifnya adalah Syariat Islam.

Selama para pemimpin negeri ini menolak konsep islam dalam menjalankan roda pemerintahan, dan tidak mau berhukum kepada hokum Allah, yang telah terbukti berabad-abad lamanya di bawah kekhilafahan islam, mampu membangun kehidupan yang harmonis dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *