Karena Cinta Perlu Nyali

Posted on

Mereka memboyong istri-istri dan anak-anak mereka ke sebuah tempat persembunyian yang unik. Itu bukan sebuah ruangan bawah tanah. Juga bukan sebuah gudang persembunyian. Itu adalah menara yang tinggi. Di sanalah perempuan-perempuan mereka disembunyikan. Dan kepada perempuan-perempuan itu suami-suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau ayah-ayah mereka, “ kalau nanti kami semua gugur jangan biarkan musuh-musuh kami menyentuh kalian. Terjunlah dari menara ini ke tanah. Dan kalian pasti mati. Tapi itu jauh lebih terhormat bagi kalian daripada menjadi tawanan perang.

Itu sekelumit cerita mengenai kehormatan dan pembelaan. Dua manfestasi cinta dari sebuah akar karakter; keberanian. Cinta dibangun dari respect kepada sesuatu yang kita cintai; cita-cita atau jiwa. Kita menghargai semua itu sebagai wujud yang memiliki makna-makna agung yang membuat kita merasakan penghargaan tertinggi ketika memberi sesuatu padanya atau menerima sesuatu darinya. Dari sanalah kita menemukan kehormatan. Dari sanalah kita terdorong untuk membela. Dari sanalah kita menyadari bahwa untuk bisa mencintai kita mesti memiliki keberanian.

Mencintai adalah sebuah keputusan besar. Begitu kita memutuskan untuk mencintai seseorang atau sebuah cita-cita, maka segera kita akan menumpahkan, perhatian pikiran, waktu dan tenaga kepada object yang kita cintai itu, sekaligus menanggung semua resiko dari keputusan itu. Resiko adalah kata yang melekat pada semua keputusan. Termasuk keputusan untuk mencintai. Tidak aka nada cinta yang menjadi legenda keagungan kalau ia tidak datang dari nyali besar.

Mengapa para sahabat begitu mencintain Rosulullah SAW sebagai Nabi dan pemimpin mereka? Salah satunya, seperti yang diriwayatkan dari Ali bin ABi Thalib, karena mereka menemukan fakta bahwa begitu pertempuran mulai memasuki puncak kesengitannya, mereka Cuma berlindung di balik punggung Rosulullah SAW. Kasih saying dan cinta yang begitu lembut dan halus dipermukaan ternyata mengandungkan makna ketangguhan dan keberanian di kedalaman hakikatnya.

Itu sebabnya mengapa legenda cinta selalu menyatu dengan legenda kepahlawan. Itu sebabnya mengapa belajar menjadi pemberani adalah keniscayaan bagi mereka yang ingin menjadi pecinta sejati. Keberanian bukan suasana tanpa rasa takut. Keberanian adalah kebulatan tekad untuk menanggung semua resiko dari keputusan mencintai yang kita ambil. Maka akarnya adalah jiwa dan tidak selalu harus mengejawantah secara fisik. Karena sebagian besar makna-maknanya justru termanifestasi pada keberanian moral;semacam keberanian moral untuk membuktikan kehormatan dan penghargaan dengan berbagai cara kepada sesuatu yang kita cintai. Itulah yang ingin dikatakan para syuhada di medan perang; cerita tentang cinta mereka kepada Allah. Itulah yang ingin dikatakan Abu Bakar atau Umar ketika memikul gandum untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari; cerita tentang cinta mereka kepada rakyat. Itulah yang ingin dikenang Rosulullah SAW dari Khodijah; cerita tentang pembelaan pada suami dan dakwahnya melalui pengorbanan hingga akhir hayat. Dan apakah yang ingin kita katakan kepada orang-orang yang kita cintai di sekitar kita? Cerita tentang apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *